UNDP Indonesia : SDGs Desa Itu Konsep Yang Menarik

KONSIDERAN  – Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Ivanovich Agusta mengatakan, SDGs Desa itu merupakan hasil pemikiran Menteri Desa PDT Abdul Halim Iskandar yang miliki korelasi dengan ide Desa untuk Semua Warga (Desa Surga).

SDGs merupakan target internasional hingga 2030 dan UNDP Indonesia menyampaikan SDGs Desa itu konsep yang menarik. Utamanya poin ke-18 Lembaga Desa Dinamis dan Budaya Desa yang adaptif erat kaitannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Jadi ini ide besar dan program ini diyakini bakal terus berlanjut meski berganti kepemimpinan di Kemendes PDTT,” kata Ivanovich dalam diskusi Ngobrol Pintar (Ngopi) Bersama Akademi Desa secara virtual, Selasa (31/8/2021).

Satu ide yang baik dalam SDGs Desa ini, kata Ivan karibnya disapa, adalah semua hal itu bisa diukur secara kualitatif dan kuantitatif.

Pemutakhiran Data Desa dalam SDGs Desa ini memang agak menyulitkan karena mengumpulkan kembali data-data yang sebelumnya tidak ada tapi selanjutnya bakal lebih mudah karena hanya memperbaharui data yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Ivan merasa optimis SDGs Desa ini bakal sukses dengan catatan semua stakeholder terkait seperti Kemendes PDTT, Pendamping Desa, dan perangkat desa kompak, meski banyak rintangan tapi jika bisa dilewati akan memberi manfaat yang besar bagi desa.

“Pemerintah Desa diuntungkan dengan data SDGs Desa karena lebih mengetahui kondisi warga termasuk potensi yang dimiliki,” kata Ivan.

Dana Desa yang digunakan untuk program SDGs Desa diperkirakan telah mencapai Rp1 Triliun lebih dari total Rp72 Triliun. Namun, untuk menghemat anggaran, Kemendes PDTT menyiapkan aplikasi dalam proses pendataan.

Hingga hari ini, tingkat keberhasilan pendataan SDGs Desa ada 88 juta warga dari 119 juta warga desa. Total 30 juta keluarga di desa, saat ini telah terdata lebih dari 29 juta keluarga. Jumlah Rukun Tetangga (RT) yang telah terdata sebanyak 470.000 RT dan desa yang telah terdata sebanyak 44.000an desa.

“Kemendes PDTT akan memberikan hasil analis data SDGs Desa dan rekomendasi pada Desember 2021 ke desa,” kata Ivan.

Ivan menuturkan, untuk penanganan Covid-19, Kemendes PDTT lebih miliki penggunaan Relawan ketimbangan Satuan Tugas (Satgas) karena dinilai lebih luwes dan tidak kaku. Pembiayaan untuk aktifitas Relawan ini bisa menggunakan Dana Desa karena telah ada regulasi untuk penanganan Covid-19.

Ada yang menarik, kata Ivan, hasil korelasi Google yang tertinggi dari big data soal desa ada dua yaitu anak dan jamu. Jadi dua hal ini bisa dijadikan pijakan lebih mendekatkan masyarakat ke desa, disamping soal pertumbuhan ekonomi.

“Selama Covid-19, ekonomi yang tumbuh positif adalah Pertanian. Salah satu yang diuntungkan adalah para petani di desa dan nilai tukar petani selalu bagus,” kata Ivan.

Ivan mengatakan, Kemendes PDTT sedang mengembangkan peta bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Google. Peta ini nantinya akan memberikan gambaran kondisi geografis seperti jumlah rumah dan luasan sawah yang berada di desa itu.

Desa akan miliki peta sendiri yang mereka atau masyarakat luas bisa akses dan unduh yang disedikan oleh Kemendes PDTT. Ini mungkin bisa lebih menarik kalangan milenial untuk kembali ke desa.(*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *