Opini  

PLD Nasibmu Merana, Sebuah Catatan Kritis

Oleh : Thomas Sutana (PLD Kecamatan Delanggu, Klaten)

KONSIDERAN – Ibarat di medan pertempuran, seorang Pendamping Lokal Desa (PLD) adalah pasukan garis depan yang berhadapan dengan musuh-musuhnya.

Keberhasilan memenangkan pertempuran tidak hanya ditentukan oleh strategi perang tetapi juga ditentukan oleh banyak faktor, misalkan : logistik tempur entah itu peralatan senjata, amunisi atau ransum makanan.

Juga, bisa dipengaruhi profesionalitas itu sendiri. Apakah para prajurit selalu dilatih kemampuan tempurnya sebelum berlaga di medan perang ?.

Jika semua faktor keberhasilan tidak disiapkan secara matang, pasukan itu jelas hanya menghantarkan nyawanya untuk dibantai oleh musuh-musuhnya.

Tulisan ini hanya sekedar menggambarkan persiapan seorang PLD apakah sudah dibekali untuk memenangkan pertempuran.

Gambaran ini berasal dari pengalaman pribadi penulis dan juga diperkaya oleh pengalaman rekan se-perjuangan dari kabupaten lainnya yang juga sama-sama melawan musuh bersama.

Jati diri seorang PLD adalah bersama rakyat. Desain PLD memang tidak mungkin duduk di ruangan hotel berbintang. PLD tidak mungkin naik mobil ber-AC.

Tapi, PLD harus berada di tanah-tanah berlumpur, di pelosok pedalaman menembus hutan, harus hidup bersama rakyat miskin.

Bersama rakyat inilah, PLD dituntut mampu memotivasi rakyat bahwa kemiskinan bisa dikalahkan jika semangat gotong royong tetap menyala terus.

Menurut hemat penulis, PLD yang diterjunkan di tengah deru amunisi tampaknya belum dibekali secara semestinya.

Amunisi sebesar 1,88 juta tidak cukup menghidupi keluarga yang ditinggalkannya di laga perang.

Apakah mampu memenangkan sebuah peperangan jika seorang PLD cuma dibekali dengan pisau komando ?

Seorang PLD bukan seperti sosok Rambo yg dikisahkan di film-film Hollywood.

Amunisi yang tidak memadai ini perlu didalami lebih jauh. Berapa keperluan magasin yang dibutuhkan oleh prajurit PLD ?

Jangan sampai semangat prajurit luntur karena ketidakcukupan amunisi. Jangan sampai pula, keluhan prajurit ini di garis depan dijawab dengan retorika formalitas.

Kalau tidak mau maju perang dengan amunisi terbatas, silakan mundur dari pertempuran. Jawaban semacam ini tidak menggambarkan garis kerjasama.

Bukankah memenangkan pertempuran adalah hasil kerja sama antara jenderal dan kopral ?.

Di mana pun berada, pasukan yg berada di garis depan biasanya menjadi perhatian utama.

Ingat Menhankam Pangab, Jenderal M.Yusuf terkenal karena peduli dengan para prajurit yang paling bawah dalam jenjang pangkatnya.

Juga, KSAD Jenderal Budiman yg juga dicintai oleh para prajurit AD karena KSAD Jenderal Budiman sangat peduli dengan nasib para prajurit kasta bawah.

Soal peningkatan profesionalitas pun, sangat jarang bahkan sedikit PLD diasah terus kemampuannya.

Bisa dihitung jari berapa kali PLD dilatih kemampuan dan ketrampilannya. Menurut pengalaman sekian tahun, penulis baru dibekali 2 kali, yaitu di hotel Sunan Solo dan di Semarang.

Selebihnya, penulis dan teman-teman lainnya berusaha sendiri meningkatkan kemampuan tempurnya, semisal mengikuti acara webinar.

Ketika anggaran untuk membekali prajurit di gugus depan, perlu dipikirkan upaya inovatif bagaimana PLD sebagai pejuang di garis depan merasa tenang karena PLD yakin dan percaya bahwa di tengah laga nyawanya dilindungi.

Rasanya tidak pantas jika penulis mengusulkan langkah inovatif dan kreatif untuk meningkatkan daya juang PLD, mengingat penulis cuma posisi paling bawah. Dalam agama hindu, bisa jadi PLD boleh dikatakan masuk golongan Paria.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *