Memukau, Gelaran Napak Tilas Puisi Prokem Tegalan Ke-2

KONSIDERAN – Tidak seperti biasa, siang itu 29 Januari 2023, Pasar Mejasem Kramat Kabupaten Tegal Jawa Tengah suasananya benar-benar berbeda.

Di hari Minggu yang mendung itu, area pasar Mejasem ada pentas Gelar Maca Puisi Prokem, Nasional, dan Tegalan yang digagas dan diselenggarakan oleh Komunitas Prokem Tegalan. Itulah yang membuat beda suasana pasar saat itu.

“Ini acara Napak Tilas Puisi Prokem Tegalan yang kedua, pertama diselenggarakan tahun 2021 di prepil Kaligung Pesayangan Talang Tegal”, ujar Ipuk NM Nur, Ketua Komunitas Prokem Tegalan.

Acara seni  tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat dari pejabat hingga orang jelata.

Di antara pejabat yang hadir pada gelaran tersebut, Kepala BNN Kota Tegal, Sudirman dan Kepala Desa Mejasem,Yuswan Maulana.

Beberapa penyair asal Tegal juga hadir meramaikan kegiatan tersebut. Sebut saja, Apito Lahire, Dyah Setyawati, Julis Nur Hussein, Moch. Miroj Adhika AS, Nurochman Sudibyo YS.

Selain itu, hadir pula budayawan, Atmo Tan Sidik, essais dan pengamat sastra, Muarif Esage.

Yang menarik dalam kegiatan seni tersebut, bukan hanya mereka saja yang telah berpredikat sebagai penyair yang membaca puisi, kalangan masyarakat biasa pun ikut serta meramaikannya.

Sebut saja ada Riani Pamulung, dan Sri Widyaningsih Pangkey.  Mereka adalah seorang penjual nasi.

Sementara, dari luar daerah hadir Iwang Nirwana dari Pemalang, Henri Yetus Siswono dan Rivi Lazuardi dari Brebes.

Aku sebenere ndregdeg dikon maca puisi, lah nyong pegaweane masak. Tapi ya tak coba ndelen“, ucap Sri Widyaningsih Pangkey dengan logat Tegal sebelum membacakan puisi prokem Yigo-Yigo Lowo karya Ipuk NM Nur.

Ajang ini seperti menjadi panggung beradu kehebatan antar penyair yang hadir dalam seni membaca puisi.

Mereka menunjukkan ciri khas masing-masing dalam mengalirkan ruh puisi dalam balutan pesan moral yang kental, baik puisi prokem, puisi Tegalan, maupun puisi bebahasa Indonesia.

“Ini panggung yang luar biasa, semua penyair tampil menggila kami sangat dimanjakan perasaannya. Sungguh sampai merinding menyaksikan perfom mereka, ” ujar Dahlia Nur Amalah mahasiswa pasca sarjana yang disertasinya mengambil tesis Sastra Tegalan.

Panggung seakan bergetar saat Apito tampil membaca puisi untuk sang istri, sementara Ki Gola merespon dengan bunyi-bunyian dari alat musik tradisional sambil sesekali menggumamkan mantra suku Badui menambah estetisnya kolaborasi keduanya.

Bukan hanya itu, saat tampil kembali seorang diri di penghujung acara Ki Gola tetap “gila” dengan kekhasannya.

Sekedar diketahui, Ki Gola adalah pemerhati budaya asal Gunung Salak Bogor yang konsen dengan budaya lokal di seluruh Nusantara.

Terkait bahasa Prokem seperti yang dipopulerkan oleh Komunitas Prokem Tegalan tersebut, apa sih, bahasa Prokem itu ?

Menurut Wikipedia, bahasa Prokem adalah bahasa gaul, bahasa sandi atau bahasa silang Indonesia.

Bahasa prokem Tegal dulu dipakai oleh para pejuang yang digagas M. Yunus Puspo Negoro dengan tujuan mengelabui musuh agar tidak dipahami kosakata asalnya.

“Jadi di beberapa daerah juga ada istilah bahasa prokem. Misalnya ” bokap” dan “nyokap” bahasa prokem Jakarta untuk menyebut ayah dan ibu”, jelas Muarif Esage kritikus sastra Tegal.

Contoh bahasa Prokem Tegalan diantaranya “tarok” (wadon), “jakwir” (batir), “yakher” (hebat) dan lainnya.

Sementara budayawan Atmo Tan Sidik mengapresiasi Napak Tilas Puisi Prokem Tegalan ini sebagai sarana menyambung rasa dan menyambung raga sebagai hubungan antar fungsi yang memang sejalan dengan ajaran Islam.

“Sungguh acara ini membanggakan, upaya gila mas Ipuk menjadi realita yang khas karena bermodal swadaya, apalagi ini penyelenggaraan acara Napak Tilas Puisi Prokem Tegalan yang kedua kali. Ini sesuai gambaran ideal saya, mendengar sastra dibacakan, ” ujar Suriali Andi Kustono, salah seorang penikmat sastra dalam komentarnya terhadap kegiatan Napak Tilas Puisi Tegalan tersebut.*** (Julis Nur Hussein)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *