Membangun Keluarga Tangguh Dibutuhkan Pondasi Norma yang Kuat

KONSIDERAN – “Membangun ketahanan keluarga, melahirkan generasi gemilang,” demikian tema parenting talk Bina Anak Sholeh (Bias) Tegal, pada Sabtu 4 Juni 22 di Hotel Premiere, Kota Tegal, Jawa Tengah.

Sebelum parenting bergulir, acara di buka dengan bacaan kalamullah dari anak anak SD Bias.

Disusul beberapa aksi pentas tari dari anak anak Play Grup dan Taman Kanak Kanak Bias Tegal.

Juga penampilan koor paduan suara Ustadzah Bias Tegal dengan lagu “Ibunda Kita Suarga Kita” dari Trio Bimbo.

Kemudian di sambung dengan sambutan Ketua MPAQ Pusat H. Jatmiko, Ch

Pada acara tersebut, dihadiri selain orang tua wali siswa, juga hadir Hj. Sari Jatmiko Pembina Bias pusat dan Kepala SD Bias, Dra. Hj. Zulfa Husein dan tamu undangan lainya.

Usai aksi pentas anak anak, giliran acara parenting yang dimoderatori Syaefur Rohman, M.Pd yang sehari-hari bergiat sebagai Dosen Universitas Terbuka.

Adapun sebagai narasumber Ustadz Cahyadi Takariawan yang sudah banyak menulis buku terkait konseling keluarga dan lainnya.

Cahyadi Takariawan yang sudah melanglang di berbagai training dan kegiatan parenting nasional mengatakan, untuk membangun keluarga yang tangguh dibutuhkan sebuah pondasi keluarga yang harus berdiri diatas pondasi norma, yakni norma agama, hukum, adat / local wishdom dan norma kemasyarakatan.

” Demikian juga ketangguhan afeksi juga harus dibangun, diantaranya bentuk afeksi pada keluarga tangguh adalah saling peduli satu dengan yang lain, terbentuk suasana persahabatan antar anggota keluarga, terdapat penghormatan atas individualitas,” kata Pak Cah panggilan akrabnya di depan para orang tua / wali santri yang hadir.

Dikatakan lebih lanjut, bentuk afeksi yaitu kedua pasangan suami istri mampu menciptakan suasana humor dan aktivitas yang menyenangkan, saling memberikan perhatian satu dengan yang lain dengan cara dan bentuk yang tepat, ekspresi cinta sesuai harapan pasangan, mampu menikmati quality time bersama keluarga.

Selain itu dipaparkan Pak Cah, bahwa ketangguhan komunikasi juga harus dibangun, yakni komunikasi harus positif, hindari komunikasi negatif saling menyakiti dan melukai.

Komunikasi positif bisa diwujudkan dalam aktivitas saling memberi pujian secara tulus, saling berbagi perasaan atau curhat secara leluasa, menghindari saling menyalahkan.

” Dalam hal komunikasi keluarga juga harus mampu berkompromi dalam hal hal yang berbeda,” tandasnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *