Inspiratif, Ketahanan Pangan Ala Desa Sribit Klaten

KONSIDERAN – Desa Sribit merupakan salah satu dari 16 desa yang ada di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Secara geografis, desa Sribit diwarnai hamparan sawah yang menghijau ketika musim tanam telah tiba.

Sungguh tepat bagi Bumdes desa Sribit memiliki usaha yang bergerak di bidang penggilingan padi.

Hamparan padi yang menguning siap dijadikan komoditas beras oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat.

Beras C 4, Mentik Susu, Pandanwangi dan Rojolele Srinar-Srinuk adalah produk unggulan Bumdes “Makmur Jaya” Desa Srimbit.

Dalam keterangan tertulis yang diterima konsideran, pada Minggu 2 April 2023, Pendamping Lokal Desa (PLD) Desa Srimbit, Thomas Sutana, menyatakan, Ketahanan Pangan di Desa Sribit justru lahir tanpa sengaja.

Sebelum muncul kebijakan dana desa untuk ketahanan pangan sebesar 20%, Desa Sribit mengawali dengan program pengelolaan sampah.

Program ini merupakan jawaban atas persoalan sampah yang dialami oleh warga desa Sribit.

Namun, melalui kunjungan belajar ke Desa Kranggan yang ada di Kecamatan Polanharjo, Perangkat Desa bersama tokoh lembaga desa lainnya berguru pada pak Gunawan, sapaan akrabnya Kepala Desa Kranggan.

Dari kunjungan belajar inilah, Desa Sribit makin mantap untuk mewujudkan pengelolaan sampah secara terpadu.

Mewujudkan program pengelolaan sampah terpadu ini bertepatan dengan program ketahanan pangan.

Selain menjaga lingkungan desa dari sampah, pengelolaan sampah ini juga dipadukan dengan program ketahanan pangan.

“Ibaratnya sekali dayung dua pulau terlampaui,” ujar Thomas Sutana.

Secara konsep dasar, sampah yang diambil dari warga desa berupa sampah organik dan non organik.

Sampah organik ini selanjutnya menjadi media untuk budi daya magot. Magot ini merupakan pakan alternatif bagi ternak ayam petelor dan ikan lele.

“Dengan pakan magot, biaya pakan yang tinggi bisa ditekan sebesar mungkin,” kata Thomas menjelaskan.

Sebagai langkah uji coba, diawali dengan ayam petelor sebanyak 200 ekor. Ayam petelor dibeli ketika usia ayam sudah siap bertelor, kira-kira usia 16 Minggu.

Meskipun sudah melakukan budi daya magot, pengelola posyantekdes tetap memberi pakan yang berkualitas.

Untuk menekan pembiayaan, pengelola meracik sendiri pakan dengan formula 50 : 30 : 20. Jika membuat 1 kwintal pakan ayam, dibutuhkan 50 kg katul, 30 kg jagung dan 20 kg konsentrat.

Bekatul itu sendiri dibeli dari penggilingan padi Bumdes Makmur Jaya dengan harga yang lebih murah. Pakan 1 kwintal ini bisa habis dalam jangka 4 hari.

Ketika sudah mampu memproduksi magot, jumlah pakan di atas bisa dikurangi dan diganti dengan magot sebagai pakan ayam.

Selain mampu mengurangi pembiayaan pakan, pakan magot bisa menghasilkan telor ayam yang lebih berkualitas.

Saat ini, Pos Pelayanan Teknologi Desa Posyantekdes) baru bisa memberikan pakan magot sebanyak 1 ons untuk setiap ekor ayam.

Budi daya lele yang dikelola oleh Posyantek des juga diberi dengan pakan magot dan pakan pelet.

Formulanya 70 berbanding 30. Artinya jika dibutuhkan pakan 1 kwintal, pakan pelet cukup 30 kg dan magotnya 70 kg.

Menurut Thomas Sutana, pemberian pakan alternatif ini jelas memberikan keuntungan untuk budi daya lele.

Lebih jauh, Thomas menjeladjan, sebagai gambaran usaha, menebar 1000 bibit lele, dibutuhkan 3 sak pakan pabrik yang memakan biaya Rp.1.050.000.

Jika pakan pabrikan diganti dengan magot, posyantekdes cukup membeli 1 sak, seharga Rp.350 ribu.

Pemasaran untuk produksi telor tidak mengalami masalah berarti. Setiap hari produksi telor ludes dibeli oleh warga desa dengan harga yang lebih murah dari pasaran.

Bahkan, warga desa mesti memesan lebih dulu jika ingin beli telor. Demikian juga, perkembangan lele terpantau bagus, cepat tumbuh besar dan tingkat kematian sangat kecil.

Program pengelolaan dan ketahanan pangan ini yang sudah berjalan bagus belum didukung oleh kecepatan produksi magot.

Jumlah kotak untuk budi daya magot masih kurang banyak dan juga media (limbah sayur atau kulit buah) untuk magot belum mencukupi.

“Kendala ini menjadi tantangan jika posyantekdes ingin mendulang cuan yang lebih besar,” kata Thomas.

Keberhasilan membangun sinergitas program sampah dan ketahanan pangan ini tidak lepas dukungan dari kepala desa.

“Perwujudan pengelolaan sampah yang dikombinasikan dengan ketahanan pangan ini tentunya tidak lepas dari kepemimpinan sang kepala desa, bapak Alibi, yang bisa membangun sinergitas dengan para tokoh lembaga desa lainnya,” ungkap PLD yang cukup inovatif ini.

Menurut kepala Desa Sribit, tahun ini jumlah ayam akan ditambah lagi dan juga akan ditambah dengan budi daya domba.

“Semoga, keberhasilan ini bisa menjadi contoh nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan di desa,” pungkasnya berharap.*** (Thomas Sutana/konsideran)

 

Writer: Thomas SutanaEditor: Darojat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *