Diskusi Petani Lintas Generasi ala Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Tegal

KONSIDERAN – Kegiatan Pekan Nasional (Penas) XVI di Kota Padang yang diikuti para petani dari berbagai propinsi di seluruh Indonesia, menjadi ajang bertukar pengalaman satu sama lainnya.

Momen tersebut pun dimanfaatkan pula oleh peserta Penas dari Kabupaten Tegal. Jawa Tengah.

Saat peserta dari Kabupaten Tegal bertemu dengan peserta lain di sebuah gazebo di lahan percontohan tanaman padi pada kegiatan Penas XVI  di seputaran Landasan Udara Sutan Syahrir  Padang, kesempatan tersebut tidak di sia-siakan untuk berdiskusi saling bertukar pengalaman terkait  dunia pertanian yang digelutinya.

Adalah Rokhlani, salah seorang peserta Penas dari Kabupaten Tegal, yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Tegal yang memoderatori diskusi ringan dengan petani dari propinsi lain, pada Rabu 14 Juni 2023.

Petani dari propinsi lain tersebut yaitu Heri Maryanto dan Rusdiono. Keduanya adalah petani milenial dari Jambi.

Diusia keduanya yang boleh dibilang masih generasi muda, namun sudah menekuni dunia pertanian.

Heri Maryanto adalah petani penangkar padi, sedangkan Rusdiono seorang petani dengan metode hidroponik.

Kepada Rokhlani, Heri Maryanto menuturkan bahwa dirinya mewakili Jambi di Penas XVI selaku petani milenial yang menggeluti dunia pertanian sebagai penangkar benih.

Heri menambahkan, benih yang dihasilkan oleh penangkaraanya mencapai 30 ton per musim tanam dengan harga jual ke konsumen Rp. 7500 per kg.

Heri Maryanto yang juga Ketua Kelompok Tani Maminase Desa Simburnaek Kecamatan Muara Sawah Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi mengaku kegiatan penangkaran benihnya difasilitasi oleh dinas pertanian setempat.

Adapun jenis padi yang ditangkarnya yaitu jenis Inpara, yakni jenis padi untuk daerah rawa. Di kelompok taninya, luas lahan pertaniannya total mencapai 85 ha.

Ketika ditanya masalah yang sering dihadapi dalam menangkar benih, dia menjelaskan adanya organisme pengganggu tanaman (OPT).

Sementara’itu, Rusdiono seorang petani yang juga dari Jambi menceritakan bahwa dirinya menggeluti dunia pertanian dengan cara hidroponik.

Dia mengaku dalam berhidroponik dirinya menanam jenis sayur mayur yang cocok untuk di budidaya secara hidroponik, seperti seledri, slada, pakcoy, dan cesim.

Petani dari Desa Rantau Makmur, Kecamatan Berbak, Jambi ini mengaku membudidayakan sayur mayur dengan cara hidroponik pada 4200 lubang.

Kelebihan dari pertanian organik, menurut Rusdiono, meski harga jual produk sayur hidroponik dan non hidroponik sama, tetapi konsumen lebih memilih untuk membeli sayur hidroponik yang dihasilkannya. Terlebih lagi kemasan sayur organiknya sudah berlabel.* (darojat/konsideran)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *